Saya menulis ini dengan airmata yang berderai-derai,
mengkhayal akan kedatangannya siang ini.
Saya menulis ini dengan harapan sepulang dari sini,
saya dapati dirinya sedang tertidur pulas di tempat biasanya,
menghimpit dirinya ke tembok kamar.
Saya menulis ini dengan harapan apa yang diucapkan semalam adalah sebuah kebohongan besar,
kalau kepulangannya ditunda.
Berharap semua yang diucapkannya adalah kebalikannya.
Hingga detik ini kegusaran masih ada..
Rindu berkecamuk,
Jarak belum bisa digunting,
lautan belum bisa ditakluk.
Ada mimpi yang terlalu tinggi.
Ada asa yang belum siap digantung.
Ada rindu di sini,
di tempat satu dua orang siap berkembang.
Saya menulis ini di meja kerja tempat saya berjuang mati-matian untukmu,
Saya menulis ini di tempat pertama kali kau meminta untuk selalu bersama,
di tempat segala rasa ditumpahkan,
di tempat saya kebingungan dan bertanya kau siapa di awal April lalu.
Hingga saat ini, air mata masih berderai,
bermimpi beberapa jam lagi kau sedang terlelap.
Saat itu juga akan kuhujani dirimu dengan jutaan ciuman,
hingga kita berdua terlelap.

7886, 12 Februari 2017

ende.jpg
On the way to Pulau Ende

On the way to Pulau Ende. This is my second time to make footsteps in this island. Someday if I have children, I’m gonna tell them: who lives see, who travels see more. Go go and go.. don’t ever think that you can’t wrap the world. I’ll tell everything, I have superb friends in my life, I have a superb husband who never say no to everything related to my job. I’ll tell my children that their daddy is the best ever.. If he say “I love you” to me, it means “forgive me”. Thanks for colouring my life, hey you all.
#fourteenth
#january
#2017

Have you ever felt that you live alone in this world?
Have you ever think that no one cares you more than yourself?
If yes, hug me. If no, hug me.
It means that, I need a hug to decrease anything..
God is everywhere, keep watching me and keep listening me.
God has a great plan just show what the world is, how the people around treats me, as a lesson to the next life.
Sometimes we’re gonna die for someone we love, but they’ll not keep their eyes on us when we fall down.
We sacrify for them but they don’t care us at all.
It’s so cracking!

Jasmine, my new friend from London.

Jasmine, my new friend from London.

16508130_1292797094144397_183677362652143541_n

Jasmine. Her name is Jasmine, my new friend from Jamaica. She said she comes from London and I was a little bit surprise. Then she explained that she was born and lives in London. Her Mom and Dad are from Jamaica. Ok, I see. In the midday, yesterday, she was in hurry, tried to pull the door in my office then, “do you speak English?” I just stared at her, because I have an expert security, Dimas. He understands and can handle everything if tourist come to ask some help. But.. you know.. Jasmine is so talkative. I thought I should handle her.
“Hello.. do you need some help?”
“Could you please tell me where is the best hotel near the airport?”
“Ikhlas Hotel, I think. It’s so close to the airport.”
“I have to go to Bali tomorrow morning. I mean in the early morning. But I don’t have an access to have ticket. Oh God.. pitty me.”
“Have you tried to book a ticket from Traveloka? It’s an easy way and I think it’s the best way for this urgent situation. You’ll pay it by your credit card if you want. I’m gonna help you.”
After having a short chit-chat, she left us, she picked her baggage to the hotel. She asked my name and she’s gone.
Some hours later..
“Hello Titiiiiin.. sorry for disturbing your time. I need you for some help. I just wanna have a talk with you..”
“Oh it’s okey. Doesn’t matter.”
We have a very long conversation till 8pm. You know.. I love how she pronounced every single words.. So British. I love it. She told me everything about London. She said that she lives in Birmingham. I asked much more about the Kingdom, the accent, how the people interact each other especially for Moslem people, about OneDirection, about football, abaut Jamaica and Reggae of course, Bob Marley because she said that she loves him so much. Yes I know it.
Oh ya.. I introduce her to my family, I told her that my husband is an army, he stays in Rote, the southest island in Indonesia. Then she asked me, “Rote is safe for your husband?”
“Yes of course. If Rote is danger for my husband, I’m never gonna leave him there!”
Then we both laughed out loud. 😂
She told me that her mother has passed away. She loves her mother so much. She said that her mother keep watching her wherever she goes.

KacangIjo

KacangIjo

#tiga

“Mau bakso?”

Saya menggelengkan kepala sebagai bentuk penolakan tanpa satu katapun terlontar. Malu luar biasa karena muka masih kusut karena baru bangun tidur langsung ditawari bakso. Kusut sekusut-kusutnya. Di sekitar saya ada beberapa laki-laki duduk melingkar, sedang asyik bermain poker. Semua tampak berpikir tentang strategi untuk mengalahkan lawan. Rasanya seperti sedang di pusat perkotaan yang kehidupan sehari-harinya adalah menggelindingkan dadu tanda permainan dimulai. Sesekali diselingi tawa lepas namun sebentar saja. Deru mesin seolah berlomba untuk saling meredam bunyi angin di lautan lepas.

Saya yang masih dalam posisi semula tanpa bergerak sedikitpun, hanya saja muka berantakan ini ditutup kain rapat-rapat. Sumpah.. malunya minta ampun. Perjalanan masih jauh. Kapan permainan mereka berakhir? Pertanyaan yang membutuhkan jawaban sesegera mungkin. Sampai kapan saya tetap dalam posisi ini?

Dalam keadaan muka yang tertutup rapat, saya berusaha sekeras mungkin agar tetap terlihat sebagaimana biasanya. Tidak berantakan. Karena pada intinya seorang anak gadis harus selalu tampil menarik, tidak hanya inner, tapi juga outer. Sesekali saya mengintip permainan mereka. Butuh waktu yang lama untuk mengumpulkan niat dan tekad agar keluar dari zona ini.

“Tabrak saja. Kan paling malunya cuma sebentar. Malunya bakalan hilang di setiap kapal berlabuh. Paling begitu saja. Buat apa malu?”, saya membatin.

Coba saja saya tidak berpindah dari tempat semula tadi, pasti tidak akan begini jadinya. Iffa, tetangga di Mataram, mengajak saya untuk pindah ke tempatnya. Dengan senang hati, karena memang saya seorang diri, saya pun tanpa basa-basi langsung memindahkan barang bawaan ke tempatnya. Lelah tak ada habisnya, tubuh butuh sesuatu yang namanya tidur. Baru tiga jam berselang, terbentuklah koloni-koloni kecil di samping kiri dan kanan saya dan Iffa, kelompok poker dadakan. Kami berdua hanya saling pandang, kemudian tidur lagi.

***

Rasa itu di selat Sape. Saya pernah menulis ini beberapa tahun silam jauh sebelum hasrat ingin menikah menikam-nikam ubun-ubun. Lautan selat Sape mendadak merah, tidak biru, karena otak sudah diracuni hawa laut yang sama sekali tidak saya pahami.

KacangIjo

KacangIjo

#dua

Pagi itu di sebuah aula yang tidak terlalu besar ukurannya, kami berduabelas orang sedang harap-harap cemas dengan perasaan yang bercampuraduk memikirkan dimana kami harus ditempatkan. Separuh November yang gelisah. Selembar kertas akhirnya dibagikan satu persatu dan kedua bola mata mulai sibuk mencari namanya masing-masing. Nama saya bertengger di urutan kesekian, lengkap dengan tempat dimana saya harus menguli.

“Wuih.. jauh sekali..”, batin saya.

Jiwa mulai bergolak, apa yang saya mesti lakukan mulai besok dan seterusnya? Kalimat “siap ditempatkan dimana saja” adalah sebuah tamparan serius ketika mood mulai kacau gara-gara tempat kerja yang jaraknya nyaris 30an kilometer dari rumah. Hidup harus punya tujuan, jangan asal makan tidur makan tidur. Berkali-kali saya memotivasi diri saya sendiri, karena motivasi dari orang lain kadang tidak mempan untuk pribadi saya yang keras ini.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar saya mulai menyusuri arah barat kota. Ketika semua masih mendengkur dan menggeliat dalam selimutnya, telinga dan hidung saya sudah dijejali dengan deru mesin dan bau knalpot motor yang saya tunggangi. Tidak gampang memang. Perempuan kurus tinggi berusia 23 tahun ini nekat subuh-subuh ke kantor hanya karena memang tidak pernah tau sama sekali dimana letak pasti tempat yang ditujunya. Hutan, jalanan sepi, jalang berkelok, tikungan tajam, jalan berlubang, dan bunyi ombak, menjadi teman jalan saya pagi itu. Hampir 45 menit berkendara, akhirnya sampai juga.

Suasananya masih gelap. Yang kudapati hanyalah sebuah sapu dan sepasang sendal jepit di halaman kantor. Sempat bingung mau memulainya dari mana. Belum tampak ada orang di sana, dinginnya juga masih menggigit. Tiba-tiba sesosok lelaki kecil muncul dari samping kantor membawa tong sampah kosong sambil senyum-senyum.

“Selamat pagi, Pak!”

“Pagi, Non!”

“Saya pekerja baru di sini, Pak. Ini hari pertama masuk kerja.”

“Oh iya Bu, silahkan masuk. Sudah ada teman juga di dalam. Baru saja diantar kakaknya. Motornya biarkan saja di sini. Nanti saya pindahkan ke belakang.”

“Terima kasih banyak, Pak”

Pintu kubuka, tubuh serasa dikeroyok udara dingin yang liar berdesakan keluar dari dua buah AC yang ditempel di tembok ruangan. Kak Siska sudah duluan sampainya, kami saling senyum tanpa satu kata terlontar. Kaku. Mata mulai belajar memahami segala isi ruangan sebelum pekerja lainnya datang. Inilah sebenar-benarnya hidup. Selamat datang di dunia mencari uang, selamat datang di panggung yang tujuan utamanya adalah mendapat apa yang namanya gaji di setiap bulannya. Seketika segalanya berubah ketika teman-teman pekerja lainnya mulai berdatangan. Ada ucapan selamat pagi, selamat datang, dan selamat bergabung sebagai pemecah kekakuan kami.

Jarak dari rumah ke kantor yang lumayan jauh memaksa saya untuk tidak harus selalu pulang-pergi setiap harinya. Mau tidak mau kantor dibikin seolah rumah. Apapun keadaannya, rumah adalah apa yang kita bangun, apapun itu termasuk suasananya. Mulai saat itu bagi saya kantor adalah segalanya dan selalu saya agung-agungkan. Kantor, tempat ternyaman setelah rumahku dan hatimu. Hatinya siapa? Entahlah..

Beberapa bulan setelah bolak-balik rumah ke kantor, saya mulai menghafal siapa-siapa yang setiap pagi selalu berpapasan di jalan, bahkan para pejalan kaki di sepanjang ruas jalan yang saya lewati. Rutinitas yang dilakoni para penguasa ruas jalan trans kota ke kecamatan ini setiap harinya ternyata menumbuhkan rasa. Sehari saja saya tidak bertemu entah siapa namanya, anak sekolahan, saya malah khawatir dengan keadaannya. Jangan-jangan dia sakit. Kalau dilihat-lihat memang berlebihan, tapi ini nyata. Saya khawatir. Suatu pagi, matahari belum muncul. Dari kejauhan sudah tampak dengan siapa saya akan berpapasan. Pria berkacamata hitam, berseragam loreng, dengan kecepatan tinggi membelah pagi itu. Sangar.

“Gayanya minta ampun. Pagi-pagi kacamata tancap di muka. Siang mending, pagi-pagi buta ni.. haduuuuh..”, saya menggerutu seolah berbicara dengan boncengan. Orang baru, mungkin cuma lewat saja.

Keesokan harinya, di jam yang sama, bertemu untuk kedua kalinya di tempat yang nyaris sama. Kali ini tanpa kacamata. Berpapasan dan bertatapan. Benih-benih penasaran mulai tumbuh pelan-pelan. Siapa dia? Kenapa ketemu dua hari berturut-turut? Orang baru? Rumahnya dimana? Dan yang lebih tidak penting lagi adalah pertanyaan: kenapa dia tidak pakai kacamata? kacamatanya dimana? Ternyata rasa penasaran bisa mengalahkan capek yang luar biasa capeknya. Saya selalu menggagalkan niat untuk menginap di kantor hanya karena masih penasaran dengan orang yang boleh saya bilang pendatang baru di arena yang saya lewati tiap harinya. Besoknya ketemu lagi, berpapasan lagi, bertatapan lagi, eh senyum, eh senyum lagi. Seiring berjalannya waktu, tidak sekedar senyum saja, mulai saling sapa, saling membunyikan klakson, ada rasa berdebar-debar. Jarak yang jauh serasa dekat, maunya cepat-cepat pagi, biar berpapasan lagi. Ada apa ini?

Sebulan, dua bulan, lima bulan, selalu saja berpapasan di jalan dan saya tidak pernah menginap lagi di kantor. Teman di jalan adalah teman. Tidak ada bedanya dengan dengan teman lainnya, termasuk teman di dunia maya. Malam itu, di dekat Taman, seorang laki-laki bersweater putih sedang sibuk dengan henponnya, sementara saya sedang memperhatikannya lekat-lekat. Siapa tau itu satu dari teman-teman yang saya tunggu. Ah ternyata bukan. Tapi sepertinya saya pernah mengenalinya, tapi dimana?

“Sepertinya pernah kenal.”, sapanya.

“Sepertinya..”, jawab saya sambil mencoba mengingat-ingat dimana saya pernah bertemu dengannya.

“Tapi dimana?”

“Di jalan.”, jawabnya santai.

“Jalan mana?”

“Jalan ya di jalan. Tiap pagi.”

“Oh iya.. astaga. Keren sekali kita bisa ketemu di sini. Saya Bella.”, sambil menyodorkan tangan.

“Rahman. Tunggu siapa?”

“Tunggu teman. Sudah janjian mau nongkrong. Tunggu siapa juga?”

“Tidak tunggu siapa-siapa. Saya biasanya di sini.”

Akhirnya obrolan panjangpun terjadi. Pertanyaan demi pertanyaan mulai keluar diselingi dengan canda tawa. Orangnya enak diajak ngobrol. Ternyata si Rahman, yang hingga saat ini saya sapa dengan “abang”, adalah seorang tentara. Terpaut empat tahun usianya di atas saya. Anak bungsu dari sekian banyak saudara, dan silahkan tebak sifatnya seperti apa.

Saat sedang asyik ngobrol, seseorang memarkir motornya tepat di depan kami berdua. Diam tanpa kata. Obrolan kami makin seru sampai tidak mempedulikan siapa yang ada di depan kami. Setengah jam berlalu. Si Abang merasa risih.

“Siapa itu?”

“Teman saya.”

“Trus?”

“Tidak ada. Kenapa?”

“Kenapa dia di situ?”

“Tidak tau.”

“Perlu saya sapa?”

“Jangan! Biarkan saja.”

Tatapan semakin tajam ke arah kami berdua. Saya pamit pulang. Si Abang masih nongkrong.

“Hati-hati, Dek!”

“Siip Abang!”

Motor melaju menjauh. Saya diikuti dari belakang. Sialan.